
MARADIKA.COM, Opini — Saya orang paling jarang menulis panjang curhatan ke dalam media sosial.
Tapi hari ini saya mencoba dan belajar memanfaatkan sosial media untuk
mengutarakan kegelisahan saya akan sikap dan tindakan yang dapat memecah
persatuan dan kesatuan.
Pemuda selalu menjadi lokomotif penggerak akan sebuah perubahan besar,
sejarah telah membuktikan itu, meski saya tak ingin menyebutnya satu persatu
yang hanya akan menjadi kenangan sejarah pemuda masa lalu. Namun tidak jarang
pula pemuda terjebak pada romantisme dan kepentingan kelompok dan golongan
sehingga lupa hakekat perjuangan pemuda yang menjadi tonggak Sumpah Pemuda.
Disituasi bangsa saat ini yang terancam akan disintegrasi, ramai-ramai
kembali memupuk kbhinnekaan yang menjadi pengikat antar etnis, suku dan agama,
sepatutnyalah pemuda mengambil peran untuk itu, menumbuhkan sikap patriotisme,
dengan kemampuan dan disiplin ilmunya.
Namun, tidak elok rasanya jika kemampuan dan disiplin ilmu yang dimiliki
itu terjebak pada hal-hal yang primordialisme ataupun perdebatan di media
sosial yang tak berujuang atau menimbulkan damapak negarif, sebab banyak
persoalan didaerah ini yang harusnya menjadi perhatian bersama. Seperti
persoalan lingkungan, petani, upah buruh, kaum miskin kota, pendidikan dan
kesehatan.
Apalagi Sulawesi Barat dihadapkan pada daerah yang sedang menjalankan
tahapan proses demokrasi, Pemilukada. Yang sedang mencari figur yang mampu
menjadi pengayom bagi semuan masyarakat Sulawesi Barat yang majemuk.
Saat ini dan seterusnya semua pihak harus mampu menjaga semangat
kebhinnekaan agar tidak terjadi gesekan yang dapat merusak nilai-nilai saling
menguatkan 'Sipamandaq' yang menjadi semangat ber Sulawesi Barat dalam bingkai
Republik Indonesia. Sebab saat ini banyak orang bisa mengatasnamakan kelompok dan
golongan, memakai atas nama hukum untuk saling menjerat (baca : menuntut),
padahal itu masih dapat dibicarakan dengan baik, atau dimusyawarahkan, yang
telah menjadi nilai dalam kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, yang
tertuang dalam Pancasila.
Pemuda hari ini harusnya mampu mengambil peran positif dalam masyarakat,
jika tidak ingin disebut hanya sebagai pemuda yang tanpa bentuk 'Anak Muda
Palsu'. Pemuda harusnya mampu menggali dan menggalang potensi masyarakat
yang berserak dan yang telah terkotak-kotak oleh pengelompokan identitas baik
di ranah sosialnya ataupun politik.
Politik Pemuda itu bukanlah bersandar atas logika-logika politik kekuasaan
yang selalu berbicara di ranah kalkulasi untung rugi semata melainkan harus
tetap menyandarkan pada politik masyarakat sendiri, dimana kedaulatan kuasa
rakyat akan berangkat dari kehendak rakyat.
'Anak Muda Palsu'
Reviewed by Maradika Mamuju
on
04.54
Rating:
Reviewed by Maradika Mamuju
on
04.54
Rating:


Tidak ada komentar: